Bahaya Jika Anak Terlalu sering Dipuji

Anak memang kebanggaan para orang tua. namun memuji anak dengan cara berlebihan berdampak kurang baik pada tumbuh kembang anak.

Berdasarkan hasil studi terbaru, anak yang tumbuh dengan sifat narsis memiliki orangtua yang memuji mereka secara berlebihan. Nantinya, sifat narsis pada anak akan membuat mereka menjadi pribadi yang dominan, superior, dan selalu merasa berhak terhadap penghargaan meskipun kontribusi mereka terbilang minim. Parahnya, kebiasaan sering dipuji dari kecil ini bisa membentuk ketakutan akan kegagalan.
ilustrasi

Namun, sebelum menguraikan terlalu jauh, sebenarnya pujian seperti apa yang dianggap berlebihan?

Menurut Eddie Brummelman, salah satu rekan penulis studi yang dihelat oleh Research Institue of Child Development and Education di University of Amsterdam tersebut, mengatakan bahwa pujian berlebihan adalah sanjungan yang terlalu tinggi, meskipun orangtua tahu pada kenyataannya anak mereka tidak sepintar dan seunggul pujian yang diberikan.

Brummelman mengumpulkan sejumlah orangtua yang selalu memuji anaknya terlalu tinggi. Kemudian, Brummelman menguji anak-anak mereka untuk memeriksa tingkat intelegensia masing-masing.

Hasilnya, anak-anak tersebut memiliki IQ di angka rata-rata, bahkan sebagian besar berada di bawah standar.

“Kami menemukan bahwa anak yang selalu dipuji dan disanjung maksimal oleh orangtua mereka, cenderung memiliki kecerdasan biasa-biasa saja,” ujar Brummelman yang melakukan eksperimen ini di Utrecht University di Belanda, bersama-sama dengan peneliti dari University of Southampton, Inggris, dan Ohio State University, Amerika Serikat.

Penelitian ini melibatkan 565 anak-anak di Belanda dengan kisaran usia mulai dari tujuh hingga 12 tahun. Rentang usia tersebut, kata Brummelman, merupakan masa di mana anak sudah mengerti perbandingan dan persaingan antar sesamanya.

“Anak yang selalu dipuji, tak hanya menganggap diri mereka hebat, tapi mereka juga merasa bahwa mereka selalu lebih baik dari orang lain,” imbuhnya.

“Penelitian ini masih hijau dan perlu studi lanjutan. Namun, kami melihat bahwa sifat narsis pada anak disebabkan orangtua berlebihan dalam memberikan pujian. Anak-anak yang demikian butuh untuk selalu dipuja-puja. Buruknya, anak-anak seperti ini jadi lebih agresif ketika mereka mengalami penolakan,” urainya.

Selain itu,  seorang psikolog terkemuka di Inggris, Stephen Grosz, seperti yang dikutip Dailymail, mengatakan, pujian kosong bisa menyebabkan anak-anak tidak bahagia karena anak-anak merasa tidak bisa hidup tanpa harapan palsu.

Sebaliknya, ia menyarankan orangtua dan guru mengurangi memberikan pujian dan mengutarakan frasa dengan mengucapkan selamat kepada anak-anak agar 'berusaha lebih keras lagi'.

Grosz, yang telah praktik sebagai psikoanalis mengatakan, pujian kosong sama buruknya dengan kritik yang tidak dipikirkan. "Itu mengungkapkan ketidakpedulian terhadap perasaan dan pikiran anak".

"Memuji anak-anak kita bisa mengangkat perasaan harga diri kita hanya sesaat tapi tidak banyak melakukan untuk perasaan percaya diri anak-anak".

Ia juga mengutip penelitian yang menunjukkan kalau anak-anak yang sering dipuji kemungkinan akan tampil buruk di sekolah. Psikolog dari Columbia University menanyakan 128 murid berusia 10-11 tahun untuk memecahkan sejumlah soal matematika.

Setelah itu, beberapa ada yang dipuji dengan "Kamu melakukannya dengan sangat baik. Kamu begitu pintar".

Sedangkan pada kelompok lain, para peneliti mengatakan 'Apakah kamu sudah baik melakukannya, kamu harus berusaha sangat keras".

Kedua kelompok anak-anak kemudian diberi pertanyaan yang lebih sulit dan anak-anak yang sudah diberitahu kalau pintar tidak melakukan sebaik yang dilakukan teman-temannya.

Bahkan, para peneliti menemukan anak-anak yang disanjung mencoba untuk berbohong tentang hasil pekerjaannya ketika ditanya tentang percobaan.

Grosz telah menulis sebuah buku tentang perilaku manusia 'The Examined Life'. Ia menceritakan, ketika mengantar anaknya ke penitipan anak dekat rumahnya di London Utara, ia mendengar asistennya mengatakan. "Kamu menggambar pohon yang indah. Bagus".

Setelah itu, ia melakukan gambar lainnya dan asisten yang sama mengatakan 'Wow,kamu sungguh-sungguh seorang seniman".

Dalam bukunya, Grosz menuliskah kalau hatinya hancur ketika melihat asisten di sana memberikan banyak pujian.

"Bagaimana saya bisa menjelaskan kepada asisten di penitipan anak bahwa saya akan lebih suka kalau dia tidak memuji anak saya," ujarnya.

Grosz percaya banyak orang dewasa yang dikritik ketika masih muda dan sekarang ingin menunjukkan kalau dirinya berbeda.

Daripada terlalu memuji anak, lanjutnya, orangtua harus mencoba untuk membangun kepercayaan diri anaknya dengan lembut.

"Hanya mendengarkan apa yang anak Anda ingin beritakukan ke Anda, tentang apa yang membuat mereka tertarik dan apa yang mereka sukai," imbuhnya.

0 Response to "Bahaya Jika Anak Terlalu sering Dipuji"

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *