Alasan Tes Keperawanan Anggota TNI Perempuan Sebagai Tolak Ukur Moral

Gosip yang beredar tentang metode tes keperawanan bagi calon anggota TNI perempuan level perwira atau yang lazin disebut dengan taruni menuai protes keras dari dunia internasional. Bahkan di dalam negeri sendiri terjadi pro kontra terkait metode yang dianggap nyeleneh dan tidak biasa ini.

Namun sebenarnya, alasan dilakukanya tes keperawanan bagi calon anggota TNI wanita ini sangat masuk di akal. Yakni sebagai tolak ukur moral dan pergaulan yang bersangkutan sebelum memasuki TNI. Seperti yang dijelaskan oleh Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Fuad Basya bahwa TNI memiliki alasan sendiri memasukkan materi keperawanan itu. Ini penjelasannya. 

"Tidak ada tes keperawanan itu, yang ada tes kesehatan. Cuma salah satu materinya, ya keperawanan itu," jelas Fuad. 

Fuad memaparkan, bahwa dalam rekrutmen calon taruna/taruni TNI itu, ada 3 faktor utama yang harus dipenuhi. Syaratnya 3 T yakni:
1. Tanggap mencakup intelektual atau IQ harus di atas rata-rata.
2. Tanggon menilai mentalitas, kepribadian dan loyalitasnya harus bagus. 
3. Trengginas meliputi fisik yang prima.

"Khusus untuk perempuan, salah satunya memang harus virgin, perawan. Kalau tidak virgin bagaimana? Ya bisa, tapi penyebabnya apa? Kalau kecelakaan atau kesehatan, bisa. Tapi kalau pergaulan dan seperti itu, artinya kepribadiannya tidak bagus, tidak bisa," jelas Fuad. 

Yang bisa menentukan dalam tes kesehatan adalah dokter, dan harus dokter perempuan. "Ya dokternya perempuan," tuturnya.

Fuad pun memberikan contoh, bila TNI yang tugasnya menjaga kedaulatan dan keselamatan bangsa memiliki kepribadian yang tidak bagus, maka yang dijaganya juga akan hancur.

"Anda bisa membayangkan nggak, kalau taruni yang masuk itu pernah berbuat asusila, dia harus jadi perwira bagi anak buah, mendidik anak buahnya, pasangan anak buahnya. Apa itu dikatakan diskrimnasi? Kita seleksi orang itu ada standarnya, tak ada satupun yang boleh mengintervensi kita," tegas Fuad

Fuad lantas mencontohkan seleksi tim basket, pramugari atau PNS, yang menentukan standarnya adalah lembaga yang menerima. "Seperti tim basket atau pramugari, butuh tinggi 170 cm atau 165 cm, apakah itu dikatakan diskriminatif?" imbuhnya.

Lantas, materi keperawanan yang selalu ditujukan bagi perempuan, bagaimana dengan calon taruna mengetahui bahwa dia masih perjaka, apa jaminannya jika pergaulannya benar? 

"Kalau untuk laki-laki itu intelijennya yang jalan. Dicari tahu sampai ke rumahnya, bagaimana latar belakang keluarganya, pendidikannya di mana, datangi tetangga-tetangganya, ditanya kesehariannya bagaimana, sampai ke sana penelusurannya. Kalau ada tes (keperjakaan), kalau ada caranya, ada ilmunya, pasti sudah dipakai," tegas dia. 

Perihal tes keperawanan untuk perempuan yang hendak masuk TNI sedang disoroti dunia. Berawal dari Human Right Watch Group (HRWG) yang mengeluarkan laporan dengan mewawancarai 11 perempuan, baik yang masih aktif maupun sudah pensiun di TNI dari semua angkatan. Dalam laporannya, tes keperawanan itu dilakukan dokter dengan memasukkan 2 jari ke dalam vagina, dengan dokter laki-laki. Pemeriksaan ini dinilai diskriminatif dan 'menyiksa'. 

Laporan HRWG ini dilansir beberapa media dunia, seperti Guardian, Sydney Morning Herald, Daily Mail dan sebagainya.

sumber: detik.com

0 Response to "Alasan Tes Keperawanan Anggota TNI Perempuan Sebagai Tolak Ukur Moral"

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *