Kisah Sony Wakwaw Bocah Miskin yang Sukses Jadi Pesinetron

Kisah Sony Wakwaw Bocah Miskin yang Sukses Jadi Pesinetron. Kamis, 4 Desember 2014 lalu, menjadi hari yang bakal diingat terus oleh Sawiyah. Hari itu, ia pindah rumah. Perempuan itu tak lagi tinggal di rumah bedeng semi permanen. Tempat tinggalnya kini lebih layak.

Semua itu berkat rezeki sang anak: Sony Kurniawan atau yang beken dengan nama Sony Wakwaw, bintang sinetron berusia 11 tahun, putra kedua Sawiyah, buah pernikahannya dengan Zakaria.

Saat Liputan6.com bertandang ke rumahnya, Sony Wakwaw sedang lelap tidur. Syuting sinetron kejar tayang sampai larut malam membuat bocah itu bekerja hingga lewat tengah malam.

Wakwaw baru pulang syuting sinetron 'Emak Ijah Pengen ke Mekah' pukul 01.00 dini hari.



Sawiyah tampak sumringah hari itu. Meski mengaku sedih meninggalkan rumah lamanya, "Tetangga di sini baik-baik," kata wanita asal Cibinong, Jawa Barat itu.

Rumah lama yang ditinggali keluarga Sony Wakwaw memang jauh dari layak. Bangunan seadanya itu berdiri di sepetak tanah di bawah pepohonan rindang di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Disusun dari kayu-kayu dan triplek yang tak seragam ukurannya, tak beraturan.

Di bagian lain, plastik dari bekas karung atau terpal menjadi pengganti dinding. Beratapkan asbes dan terpal sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari.

Di samping rumah terdapat karung-karung berisi sampah plastik yang sudah dipilah. Di bagian lain ada bungkusan yang dikerubungi lalat. Entah apa isinya.




Sawiyah, Zakaria, serta tiga anak mereka -- Sony punya seorang kakak yang masih SMA dan seorang adik -- sudah tujuh tahun tinggal di rumah itu. Kepada pemilik tanah, Zakaria menyewa tanah lalu membangun rumah dari nol untuk ia tinggali sekeluarga. "Awalnya satu kamar, lalu lama-lama bertambah," kata Sawiyah. Harga sewa per bulan tujuh tahun lalu Rp 150 ribu. Tahun ini harganya sudah naik jadi Rp 400 ribu per bulan.

Meski masih menghuni rumah itu, berkat Sony, terlihat perbedaan mencolok pada keluarganya. Ada sepeda motor baru jenis Honda Blade R tipe Repsol berdiri di depan rumah Sony. Harga motor itu sekitar Rp 16 juta. Sehari-hari dipakai sang ayah.

Suasana Rumah Baru
Pagi hari itu persiapan kepindahan ke rumah baru sudah nyaris rampung. Berbagai barang sudah siap diangkut. Baju-baju sudah dikelompokkan dalam buntelan-buntelan kain.

Sony pindah rumah rupanya juga momen berharga bagi media. Tak kurang selusin infotainment--dari berbagai stasiun TV, bukan hanya dari SCTV yang menayangkan sinetron yang dibintangi Sony—ikut mengabadikan kepindahannya.

Sekitar pukul 10.00 WIB Sony terbangun dari tidurnya. Sawiyah menyuruhnya mandi. Selesai mandi, bocah yang dikenal dengan topi merahnya itu tampak bersemangat membantu proses pindahan. Ia ikut mengangkut barang-barang dengan sepedanya ataupun menaikkan ke mobil bak terbuka.




Rumah baru keluarga Sony Wakwaw tak jauh dari rumah lama. Jaraknya sekitar 200 meter, beralamat di kelurahan Harja Mukti, Cimanggis, Depok. Rumahnya bercat biru, lantai keramik putih. Berpagar.

Status rumah itu bukan hak milik. Keluarga Sony mengontrak. Harga sewanya Rp 9 juta per tahun.

Rumah itu terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu, dan dapur. Tak banyak barang yang dipindahkan ke rumah baru. Rupanya, di rumah itu sudah terisi furnitur dan barang-barang baru.




Ada kulkas, kasur, mesin cuci, meja makan, sofa, dan lemari. Semuanya baru. Dibeli dari hasil keringat anak kedua mereka yang bermata juling, ti

Saat Kecil Sony Wakwaw Sakit-sakitan
Bagaimana Sony Wakwaw mengubah nasib keluarganya?

Kisah Sony Wakwaw menjadi tenar adalah kisah klasik “from zero to hero”, yakni mereka yang bukan siapa-siapa, bahkan hidup terpuruk dalam kemiskinan, mendadak berubah nasibnya, menjadi tenar dan kaya raya. Di jagat budaya pop kita, mereka kerap memiliki keterbatasan fisik. Wajah mereka jauh dari rupawan seperti umumnya seleb. Sebutan generik bagi mereka, “muka kampung rezeki kota,” sebuah ungkapan yang disematkan pada mendiang Benyamin S, artis Betawi serba bisa.

Hidup Sony sudah didera cobaan sejak masih bayi. Saat itu ia sering kali demam dan suhu tubuhnya tinggi. Berobat ke dokter, penyakit si Wakwa sembuh. Namun dampak lainnya yakni mata, berat badan, kemampuan bicara, dan daya tangkap Sony menjadi tidak seperti teman-teman sebayanya.

Lantaran hal itu, Sony tak naik kelas beberapa kali. Ia baru naik kelas 2 SD setelah tiga kali tinggal kelas. Orangtua memutuskan tak lagi menyekolahkan putranya tersebut.

"Kami berusaha memasukkan ke sekolah lain, tapi Sony menolak. Dia tidak sanggup mendapat hinaan dari teman-temannya," kata Sawiyah lirih.


Sony kemudian menyibukkan diri membantu orangtuanya. Zakaria dan Sawiyah sehari-hari hidup sebagai pemulung. Di luar mengumpulkan sampah plastik, Sawiyah menambah penghasilan keluarga dengan jadi tukang cuci. Zakaria kerja serabutan apa saja. "Sony juga dulu suka membantu saya memulung. Dia rajin," Sawiyah memuji putranya.

Selain membantu orangtua, Sony juga jadi tukang parkir amatir di lokasi syuting sinetron tak jauh dari rumahnya. Kawasan Cibubur dekat tempat ia tinggal merupakan lokasi yang ramai dipakai syuting berbagai judul sinetron. Cibubur terletak di pinggiran timur Jakarta. Daerah perkampungan di Cibubur masih asri. Sangat pas untuk setting sinetron masyarakat bawah pinggir kota.

Dari Tukang Parkir Jadi Pemain Sinetron

Salah satu judul sinetron yang syuting di kawasan dekat Cibubur adalah Emak Ijah Pengen ke Mekah. Saban hari sinetron ini tayang di SCTV. Karena proses kejar tayang alias stripping lokasi syuting selalu sibuk oleh lalu lalang kendaraan kru dan pemain. Belum lagi penduduk sekitar yang ingin menonton syuting.

Di luar kesibukan membantu orangtua memulung sampah atau membersihkannya, Sony kerap mengunjungi lokasi syuting saban sore. Awalnya cuma menonton, ia kemudian jadi tukang parkir. Melihat kekurangan fisik Sony, yang punya mobil sebetulnya tak terlalu mengandalkan arahannya. "Tapi mereka tetap memberinya uang," kata Emil G. Hampp, sutradara Emak Ijah Pengen ke Mekah saat ditemui di lokasi syuting Jumat (19/12/2014) pekan lalu.

Dua bulan jadi tukang parkir, Sony dekat dengan kru sinetron. "Akhirnya dia bantu angkat-angkat (peralatan syuting)," bilang Emil.
Kemudian dia diajak main, sebagai figuran. "Awalnya jadi pengemis, lalu jadi warga," cerita sutradara yang terjun ke film sejak 1980-an itu.

Sony menyita perhatian ketika peran figuran yang didapatnya lebih besar. "Ada adegan pemulung mencuri tas Trio Ubur-ubur, dikejar, pas mau balikin gerobak, muncul anak pemulung dan diberi dialog, ‘Bapak mana, Bapak? Bapaakkk…'" urai Emil.

Dari situ kemudian jalan Sony jadi bintang sinetron terbuka. Ia lalu diberi peran dan dialog lebih banyak. Selain kalimat mencari bapaknya, Sony juga diberi ucapan salam yang khas“Wakwaw!”, semacam versi lain “cilukba”. Dari situ namanya jadi Sony Wakwaw.

Jika sebelumnya honor jadi pemain figuran hanya Rp 50 ribu, kini sebagai pemain tetap, Sony dibayar Rp 1 juta per episode. Artinya, jika syuting nonstop 30 hari, dalam sebulan dia dapat uang Rp 30 juta. Itu di luar honor acara offair, misal acara di mal atau pula dipanggil stasiun TV mengisi acara lain. Untuk tampil di acara tahun baru, Sony ditawari honor Rp 40 juta.


Selain uang, jerih payah Sony juga menghasilkan penghargaan dalam bentuk lain. November kemarin, ia dianugerahi gelar Artis Cilik Paling Ngetop di ajang SCTV Awards 2014.

0 Response to "Kisah Sony Wakwaw Bocah Miskin yang Sukses Jadi Pesinetron"

Poskan Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *